
Kenali lebih dekat perjalanan, nilai, visi, dan panggilan Gereja Amin Hermon dalam menghadirkan kasih Kristus bagi setiap orang.
Gereja AMIN Jemaat Hermon berawal dari keinginan sejumlah pengikut Kristus yang hendak berkumpul dan bersekutu di antara sesama saudara di dalam Kristus dalam wadah Gereja AMIN. Pada awalnya, sejumlah warga Gereja AMIN yang berdomisili di Jakarta menggagas berdirinya Gereja AMIN. Ide tersebut digumuli dalam pertemuan dan percakapan dan pada akhirnya disepakati untuk mencoba memulai ibadah. Karena berbagai kendala, ibadah tersebut tidak dapat dilakukan tiap hari Minggu, tetapi mula-mula sekali dalam tiga bulan. Tempat ibadahnya pun dilakukan di beberapa rumah warga Gereja AMIN secara bergantian. Dalam perkembangannya, perkumpulan ini menjadi batu pijakan yang cukup kuat untuk melangkah ke arah pembentukan organisasi yang lebih mapan, yakni gereja. Maka, setelah berkonsultasi dengan BPHMS Gereja AMIN, terbentuklah Gereja AMIN Calon Jemaat Jakarta pada tahun 1987. Pelayanan kebaktian umum dilaksanakan di beberapa rumah jemaat secara bergantian. Seorang sinenge (guru jemaat) diangkat oleh BPHMS Gereja AMIN untuk menjadi koordinator pelayanan dalam koordinasi dengan pengurus calon jemaat. Gereja AMIN Calon Jemaat Jakarta terus membenah diri supaya kemudian layak dikukuhkan sebagai jemaat dewasa. Untuk itu, pelayanan-pelayanan di tengah jemaat terus digiatkan dan dikembangkan walau ada banyak keterbatasan. Di samping itu, diupayakan pula mencari tempat ibadah permanen. Karena belum mampu memiliki tanah dan gedung gereja sendiri, majelis jemaat berupaya agar ada suatu ruang atau gedung yang dapat digunakan sebagai tempat kebaktian. Harapan itu terpenuhi berkat dukungan dari Gereja Toraja. Mereka memberikan izin untuk menggunakan gedung Gereja Toraja di Jl. D.I. Panjaitan pada tahun 1990. Sejak saat itu, pelayanan rutin ibadah jemaat, sakramen dan juga rapat-rapat gerejawi dilakukan di dalam gedung tersebut. Kegiatan gerejawi dan pelayanan jemaat terus dilakukan dan dikembangkan oleh majelis jemaat bersama dengan warga jemaat. Tentu ada banyak pergumulan dan tantangan dalam menjalaninya. Pada akhirnya, dalam kebaktian Minggu, 13 September 1992, persekutuan ini resmi dikukuhkan sebagai jemaat dewasa oleh Badan Pekerja Harian Majelis Sinode Gereja AMIN dengan nama Gereja AMIN Jemaat Jakarta. Pelayanan demi pelayanan dilakoni oleh Jemaat Jakarta. Berbarengan dengan itu, harapan untuk memiliki tanah dan gedung sendiri tak pernah surut. Harapan itu digumuli dengan sungguh-sungguh yang menguras tenaga dan pikiran, dan dana. Akhirnya, dengan berbagai upaya, langkah pertama mewujudkan keinginan tersebut terlaksana. Dengan keterbatasan dana, Jemaat Jakarta memutuskan untuk membeli sebidang tanah yang berlokasi di Jatimelati, Bekasi. Namun, gedung gereja tidak serta merta dibangun. Masih dibutuhkan beberapa tahun lagi hingga gedung tersebut berdiri. Setelah peletakan batu pertama dilakukan, masih dibutuhkan waktu yang cukup lama, setahap demi setahap dalam kurun waktu yang panjang, hingga akhirnya gedung itu dapat digunakan. Gedung gereja ini tidak terjadi sekejap mata. Namun, ketika sudah berdiri, gedung itu menjadi saksi bisu dari semangat, keringat, air mata, dan juga pengorbanan warga jemaat, yang telah bahu-membahu membangunnya. Perizinan sebagai tempat peribadahan merupakan pergumulan tersendiri. Namun, itu semua dapat diselesaikan berkat pertolongan Tuhan, melalui dukungan warga masya¬rakat di sekitar gereja, yang notabene bukan warga Gereja AMIN. Akhirnya, sekitar awal tahun 2002, gedung gereja ini resmi digu¬nakan dalam peribadahan rutin dan aktivitas Jemaat Jakarta. Karena dibayangkan bahwa jemaat ini menjadi gereja yang ada di wilayah Jakarta, nama yang digunakan adalah Jemaat Jakarta. Namun, dalam perkembangan kemudian, gereja ini menempati wilayah di Bekasi. Oleh karena itu, dibuatlah perubahan nama diri agar cocok dengan konteksnya. Pada 8 Februari 2013, BPHMS Gereja AMIN mengukuhkan perubahan nama. Nama Jemaat Jakarta resmi berubah men¬jadi Jemaat Hermon. Melalui nama ini, Jemaat Hermon ingin membangun dirinya untuk menjadi berkat bagi sekitarnya. Setelah sekian tahun, babak selanjutnya adalah renovasi gedung gereja. Gedung yang lama dirombak total dan didirikanlah gedung yang baru. Peletakan batu pertama dilakukan bertepatan dengan ibadah HUT ke-28 Gereja AMIN Jemaat Hermon, pada Minggu, 13 September 2020. Berkat dukungan tiada henti dari warga jemaat serta tambahan dukungan dari berbagai pihak, pembangunan gedung baru itu berlangsung relatif cepat. Akhirnya, lantai dasar yang dirancang untuk ibadah dan aktivitas Sekolah Minggu dapat diselesaikan. Maka sejak 25 Desember 2020, gedung gereja yang baru tersebut sudah mulai digunakan sebagai tempat beribadah dan aktivitas lainnya hingga saat ini. Demikianlah sejarah singkat Gereja AMIN Jemaat Hermon.
Gereja AMIN yang tangguh, mandiri, dan peduli.
Para pelayan dan pengurus yang dipercayakan untuk menggembalakan dan melayani jemaat.
"Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya."
— Yohanes 10:11